Hari Sabtu kemarin, salah satu teman baik saya sejak taman kanak-kanak melangsungkan pernikahan. Entah apa pertimbangannya untuk menikah dalam usia yang sangat muda. Belum ada 25 tahun usianya.
Karena tempat acara pernikahan sangat jauh, di daerah Banten Selatan, maka saya dan teman-teman lainnya sepakat untuk berangkat bersama-sama. Pukul 02.30 dini hari saya sudah dibangunkan oleh salah seorang teman saya, ia memberi tahu bahwa saya akan dijemput pukul 05.30. Lebih dari 15 tahun saya berteman dengan orang-orang ini, saya tahu mereka tidak pernah berubah, selalu saja telat dan begitupun dengan saya, selalu siap 30 menit dari waktu yang telah ditentukan meskipun saya tahu mereka pasti telat. Mereka baru hadir menjemput didepan rumah saya pukul 06.30. Lumayan pikir saya, hanya telat 1 jam.
Perjalanan menuju Banten Selatan sangat menyenangkan, secara saya tidak kebagian tugas untuk menyetir. Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menikmati pegunungan dan hijaunya tanaman padi, sementara teman saya yang menyetir tampaknya kebingungan dengan arah jalan yang cukup rumit.
Saya tidak akan bercerita tentang jalannya acara pernikahan. Inti cerita postingan ini sebenarnya adalah kisah tentang perjalanan pulang dari tempat pernikahan teman saya. Oke, jadi sedikit berimprovisasi, saya dan teman-teman memutuskan untuk pulang lewat jalur yang berbeda. Tanpa sebuah peta, dan hanya berbekal sedikit cerita dan feeling tentunya, kami mengambil jalur alternatif untuk pulang. Ternyata setelah melewati daerah-daerah tak dikenal bisa tembus juga sampai pantai Anyer.
Saya dan teman-teman memilih salah satu pantai disana untuk singgah. Semuanya masih berpakaian rapi. Ada yang pake batik, kemeja lengan panjang, celana bahan plus sepatu pantofel. Tidak ada satupun yang membawa pakaian ganti, karena tadinya memang tidak rencana sama sekali untuk ke Anyer. Yaudah jadinya maen-maen di pinggir pantai siang-siang dgn pakaian lengkap plus sepatu pantofel yang enggan dilepas karena pasir terasa sangat panas. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang yang melihat kami, karena pantai sedang ramai saat itu. Salah satu teman saya tampaknya menyadari bahwa banyak orang melihat kearah kami, diambilnya sweater didalam mobil, lalu dikenakannya untuk menutupi kemeja panjang yang sedang dipakainya lalu kembali bermain-main di pinggir pantai. Sumpah Idiot abis. Tapi semuanya sangat menyenangkan. Besok-besok mungkin saya akan jarang sekali bertemu dengan mereka.