Lingsir Wengi ialah nyanyian cinta pada malam sepi yang semakin lindap. Ya, sebuah nyanyian cinta bukan mantram ajaib pemanggil Kuntilanak. Dapatkah Kuntilanak mencinta?
Malam adalah waktu ketika cinta merintih, berteriak-teriak untuk mengusir bayang wajah yang selalu menggoda hati. Rasanya pedih meski tak selalu dibarengi rasa pahit. Sepedih hati raksasa Dasamuka saat kehilangan Shinta. Sepedih ratapan sang Prabu ditinggal mati oleh Dyah Ayu Pitaloka Citraresmi,puteri sunda cantik jelita yang bunuh diri setelah dijebak oleh patih amangkubumi. Ah tak perlu khawatir, rasanya tak akan sepahit buah Maja.
Setiap malam cinta merintih lama-lama menjadi gila. Gila karena terlalu berharap pada Layla. Aku gila. Gila.Gila. Gila. Gila karena dirimu Layla. Layla.Layla. Layla. Layla. Ah Layla setiap malam aku selalu menjeritkan namamu. Layla.Layla.Layla. Layla. Layla. Yang menjawab hanya angin malam yang mengelus lembut leherku. Oh ataukah itu hanya Kuntilanak yang sedang mencoba merayu?
Layla tak kan mampu aku membangun seribu candi untukmu.Tapi kan kubangun satu candi dari tubuhmu. Temani aku untuk bernyanyi nyanyian cinta pada malam sepi yang semakin lindap.
Malam masih saja seperti dulu. Seperti juga cinta. Datang tak perlu dijemput, pulang juga tak perlu diantar. Tak seperti kuntilanak!.