Menciptakan sebuah kisah cinta tanpa terjebak dalam sesuatu yang banal atau klise sangatlah rumit bila tidak ingin dibilang tidak mungkin. Meski sifat dasar dari cinta adalah unpredictable tapi ketika dikisahkan melalui berbagai medium, cinta itu tereduksi menjadi predictable. Hal ini wajar saja karena cinta adalah salah satu topik yang paling diminati dalam sejarah peradaban umat manusia. oleh sebab itu, mungkin telah tercipta ribuan atau lebih kisah cinta dimana antara satu kisah dengan kisah lainnya pada dasarnya tidak jauh berbeda. Dan kisah cinta menjadi tak ubahnya seperti produk rokok, menjadi komoditas yang paling laku dijual.
Beberapa hari lalu saya membaca novel terkenal Erich Segal berjudul Love Story. Kisah dalam novel ini dilambari dengan hal-hal klise dan sepertinya menjadi prototipe kisah cinta yang digambarkan dalam beberapa sinetron Indonesia : perempuan miskin dan lelaki kaya, saling jatuh cinta, bersama-sama berjuang melawan hambatan namun tanpa diduga-duga salah satu pihak sakit keras dan kemudian tewas meninggalkan pasangannya. Lalu air matapun mengalir. kisah cinta yang berakhir dalam tragedi adalah kisah cinta yang paling banyak dipuja dan dirayakan oleh umat manusia. Kisah cinta telah berubah menjadi sebuah mesin tragedi yang memikat. Pertanyaan yang muncul adalah : apakah manusia mencintai cinta atau mencintai tragedi?
Balik lagi ke novel Erich Segal. Walau dipenuhi dengan hal-hal klise ternyata Erich Segal piawai dalam menghadirkan dialog-dialog yang sangat menarik, lugas dan memikat hingga saya "terpaksa" membaca novel tersebut sampai habis. Hal ini mengingatkan saya pada fakta bahwa hampit tidak mungkin membuat kisah cinta yang seratus persen original tanpa memasukan hal-hal klise atau banal, oleh sebab itu kisah tersebut harus diberikan "bungkus" yang menarik. Contoh kisah yang menurut selera saya " dibungkus" dengan menarik itu misalnya bisa dilihat dalam The Time Machine- H. G Wells dan The Time Travellers Wife - Audrey Niffenegger.
Saya kemudian berpikir dan menemukan pertanyaan : apakah dengan ramainya lalu lintas kisah cinta yang berjejalan dan dikonsumsi secara terus-menerus menunjukkan semangat umat manusia dalam mencari dan menemukan esensi tertinggi dari cinta? ataukah hanya bentuk ketidakberdayaan umat manusia yang terjebak dalam hiperrealitas?