
Aku digantung ditiang bendera. Dari kulit ariku keluar belalang yang bercerita perlahan tentang ibuku yang tak jemu menjahit bendera dari bulu kaki ayah. Aku tak mau bertemu mereka lagi sejak diam-diam kusimpan gerhana dibalik kaos singletku yang terbuat dari ulat bulu. Tapi rahangku tak setajam tusuk gigi untuk mengikis habis rasa rindu. Ia hanya menggigiti lidahku yang ditumbuhi kembang-kembang pemberianmu.
Ada lelaki singgah di alis matamu. Ia membawa sekeranjang penuh belalang dimulutnya. Ia tanami satu per satu belalang itu di kulitmu yang kering. Tapi sekarang sedang musim kemarau dan sungai-sungai sedang sibuk berlompatan menuju pantai. Perahu nelayan berteriak kehilangan bendera lalu mereka bertani ulat bulu tanpa menunggu gerhana datang. Ia menarik-narik leherku yang terikat oleh kawat gigi. Tapi nanti dulu!..aku belum bertemu Mischa Barton!.