Sebuah link dari seorang teman mengantarkan saya kepada sebuah cerita pendek berjudul The Cloak karya penulis Rusia, Nikolai Gogol. Nama Nikolai Gogol sungguh terasa asing untuk saya; lain halnya dengan nama-nama rusia yang telah akrab di telinga seperti : Kuprin, Bakunin, Gorki, Dostoevsky, Stalin, Lenin atau Kruschev. Jika saya tidak pernah menonton The Namesake---sebuah film yang didasarkan pada novel Jhumpa Lahiri---mungkin baru kali ini saya mengetahui tentang Nikolai Gogol.
Dalam The Cloak, Gogol bercerita tentang Akakiy Akakievitch Bashmatchkins, seorang birokrat rendahan sebuah departemen di St. Petersburg. Akakiy seseorang yang punya dedikasi dan sangat mencintai pekerjaannya sehari-hari yaitu sebagai penyalin surat. Meskipun Akakiy seorang pekerja yang baik, sebagai birokrat rendahan ia tidak mendapat penghargaan dari atasannya malah ia sering mendapat celaan dari teman-teman sekerjanya dan bergaji kecil pula.
Konflik dalam The Cloak, dimulai ketika Akakiy berusaha untuk mendapatkan mantel baru untuk menggantikan mantel lamanya yang sudah tidak layak pakai. Gogol disini dengan amat baik menceritakan semua daya upaya yang harus dilakukan oleh Akakiy---dengan bantuan Petrovich, sang penjahit---untuk memperoleh mantel baru. Mantel baru ini yang kemudian merubah kehidupan Akakiy. Ia kini dipuji oleh rekan sekerja dan bahkan diajak berpesta. Sayang kesenangan dan kebanggaan Akakiy terhadap mantel barunya hanya sekejap saja. Pulang dari pesta mantel Akakiy dirampok ditengah jalan!.
Upaya untuk mencari kembali mantel yang dirampok tersebut pun dilakukan oleh Akakiy melalui jalur birokrasi yang memiliki wewenang termasuk juga melalui ”jalur khusus”. Tapi sayang semuanya tidak membuahkan hasil. Pada bagian ini Gogol berhasil memperlihatkan sebuah kisah pertentangan antara si penindas dan si tertindas. Sebuah sejarah umat manusia. Tertekan karena upayanya yang gagal lalu terserang penyakit, Akakiy pun tewas tanpa siapapun peduli. Tapi ternyata Gogol belum rela kisah ini berakhir begitu saja.................
Simbol-Simbol yang digunakan oleh Gogol dalam The Cloak membuat cerita ini bisa menjadi multitafsir. Saya melihat The Cloak sebagai sebuah kisah tentang nilai kemanusiaan yang telah pudar dihantam oleh rezim otokrasi. Ketika kekuasaan berada dalam genggaman kuasa seseorang atau kelompok orang tertentu dan bukan dalam genggaman supremasi hukum maka orang-orang lemah dan tertindas seperti Akakiy yang tak tahu apa yang harus dilakukan ketika haknya terampas akan selalu ada. Membaca bagian-bagian The Cloak membuat saya miris tapi ada juga bagian yang membuat saya tertawa. Tertawa kecil.